e-news.id
Langkat - Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Langkat, Tiorita Br. Surbakti, SH, mengajak masyarakat untuk terus menghidupkan semangat perjuangan para pahlawan dalam membangun daerah dan bangsa. Pesan itu disampaikan Tiorita saat menghadiri Peringatan ke-79 Peristiwa Berandan Bumi Hangus di Lapangan Petrolia, Pangkalan Brandan, Kecamatan Babalan, Rabu (13/8/2026).
Peringatan yang mengusung tema “Dari Berandan Untuk Negeri,
Menjaga Kedaulatan, Membangun Peradaban” tersebut berlangsung meriah dan
khidmat, dengan dihadiri ribuan masyarakat sejak pagi.
Rangkaian kegiatan diawali pelepasan pawai yang diikuti
puluhan kelompok, mulai dari peserta tapak tilas, Paskibraka Kecamatan, purna
Paskibraka, anak-anak TK, grup drumband hingga berbagai unsur masyarakat. Pawai
tersebut dilepas langsung oleh Plt. Bupati Langkat Tiorita Br. Surbakti, SH.
Sekretaris Daerah Kabupaten Langkat, Amril, S.Sos., M.AP.,
mengatakan peringatan Berandan Bumi Hangus tahun ini memiliki konsep berbeda.
Atas kebijakan Plt. Bupati Langkat Tiorita Br. Surbakti, rangkaian kegiatan
dilaksanakan selama tiga hari, mulai 11 hingga 13 Agustus 2026.
“Rangkaian kegiatannya mulai dari pameran expo dan IKM,
lomba lagu perjuangan, lomba napak tilas, malam keakraban dan temu tokoh
pejuang hingga acara puncak Peringatan Berandan Bumi Hangus,” ujar Amril.
Selain itu, turut dilaksanakan pemberian penghargaan kepada
para pemrakarsa, tokoh maupun keluarga pendukung Berandan Bumi Hangus serta
pemrakarsa terwujudnya Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 1995.
Mengenang Sejarah Perjuangan
Peristiwa Berandan Bumi Hangus merupakan salah satu catatan
penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di
Kabupaten Langkat.
Berdasarkan referensi sejarah, peristiwa tersebut bermula
dari invasi pasukan Sekutu bersama Belanda yang dikenal dengan Agresi Militer
ke Langkat sekitar tahun 1947. Pasukan tersebut berhasil melumpuhkan sejumlah
wilayah, seperti Stabat, Tanjung Pura dan Gebang, sebelum kemudian berupaya
menguasai sumber minyak di Pangkalan Brandan.
Para pejuang dan masyarakat Pangkalan Brandan kemudian
mengambil keputusan untuk membumihanguskan instalasi minyak sebagai bentuk
perlawanan dan upaya mencegah sumber daya strategis tersebut dikuasai Belanda.
Sekitar pukul 03.00 dini hari, 13 Agustus 1947, tanki-tanki
besar, fondasi penyulingan dan gedung-gedung perusahaan tambang minyak
diledakkan. Kobaran api besar membakar kawasan Pangkalan Brandan dan menjadi
simbol keberanian masyarakat dalam mempertahankan kemerdekaan.
Di hadapan ribuan masyarakat, Tiorita membangkitkan kembali
semangat perjuangan tersebut dengan menyerukan, “Merdeka, Merdeka, Merdeka!”
Tiorita mengatakan, 79 tahun lalu Pangkalan Brandan
dihadapkan pada situasi perjuangan yang berat dalam mempertahankan kemerdekaan.
Semangat perjuangan tersebut, menurutnya, harus terus dilanjutkan melalui
pengabdian sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing.
“Mari kita lanjutkan perjuangan tersebut dengan semangat
yang sama sesuai tugas kita masing-masing,” ajaknya.
Tiorita juga mengingatkan bahwa Pangkalan Brandan memiliki
kontribusi besar dalam perjalanan sejarah bangsa. Karena itu, semangat
perjuangan yang diwariskan para pendahulu harus menjadi kekuatan untuk
mempererat persatuan dan mendorong kemajuan daerah.
“Mari bersama menguatkan persatuan, kesetiaan, melanjutkan
semangat pengabdian untuk memajukan Kabupaten Langkat maupun Sumatera Utara,”
tegasnya.
Semangat Perjuangan untuk Masa Kini
Sementara itu, mewakili Gubernur Sumatera Utara, Asisten
Pemerintahan Sekretariat Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Drs. Basarin Yunus
Tanjung, mengatakan bahwa di balik kobaran api Peristiwa Berandan Bumi Hangus
terdapat keberanian dan semangat perjuangan masyarakat Pangkalan Brandan.
Menurutnya, nilai-nilai perjuangan tersebut harus terus
diterapkan dalam kehidupan masa kini melalui berbagai bidang pembangunan.
“Nilai semangat perjuangan ini harus diterapkan ke zaman
sekarang dengan meningkatkan semangat dalam pendidikan, pembangunan, pelayanan
kepada masyarakat serta meningkatkan perekonomian,” katanya.
Puncak kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penampilan drama
kolosal Kilas Balik Peristiwa Berandan Bumi Hangus yang diperankan oleh ratusan
anak sekolah bersama prajurit Marinir Yonif 8 Harimau Putih.
Drama tersebut menggambarkan kembali perjuangan masyarakat
dan para pejuang dalam mempertahankan Pangkalan Brandan dari upaya penguasaan
Belanda.
Peringatan ke-79 Berandan Bumi Hangus menjadi momentum bagi
Pemerintah Kabupaten Langkat dan masyarakat untuk mengenang jasa para pejuang
sekaligus meneguhkan kembali semangat persatuan, patriotisme dan pengabdian
dalam membangun Kabupaten Langkat dan Indonesia.(Ril/Red).